makam imam nawawi di bom

Ziarahkubur Nabi SAW termasuk ibadah yang mendekatkan seorang hamba dengan Allah SWT Tanggal22 Februari 2006 terjadi ledakan beberapa unit bom yang diletakkan para teroris di kompleks makam Imam hadi as dan Imam Hassan Askari as di kota Samarra, utara Baghdad. Ledakan bom itu telah menyebabkan kerusakan besar terhadap kedua tempat suci Islam ini. Imam Hadi dan Imam Hasan Askari as adalah dua Imam besar keturunan Nabi Muhammad Saw. Saya senang jika dibacakan al Quran di dekat kubur" (al Umm) Dari sini, Imam al Nawawi berkata: قال الشافعي رحمه الله: ويستحب أن يقرأ عنده شيء من القرآن، وإن ختموا القرآن عنده كان حسنا. Syafii berkata: "Dianjurkan membaca sesuatu dari al Quran di dekat kuburnya. Iahafal di luar kepala jalur keilmuan tersebut yaitu melalui pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari berguru kepada Syekh Mahfudz at-Termasi, Syekh Nawawi al-Bantani, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Imam Ahmad ad-Dasuqi, Imam Ibrahim al-Baijuri, Imam Abdullah as-Sanusi, Imam 'Abduddin al-'Iji, Imam Muhammad bin Umar Fakhrurrazi. Syekhal Buthi, ulama kaliber dunia yg sedang mengadakan kajian tafsir al qur'an bersama murid-muridnya di dalam masjid pun mereka bom. Tidak cukup itu, makam Imam Nawawi yang karya-karya ilmiahnya sampai sekarang masih banyak dikaji di pesantren pun tidak luput dari kedzaliman mereka. Makam mulia itu dihancurkan dengan sebuah ledakan. Wo Treffen Sich Singles In Stuttgart. - Siapa yang tidak kenal intelektual Islam abad ke-13 Masehi yang sangat dihormati dan karya jasanya... Sekilas Raden Ma’mun Nawawi adalah seorang ulama ternama kelahiran Cibogo, Cibarusah, Bekasi. Kiai Ma’mun Nawawi akrab dengan panggilan Mama’ Cibogo. Lahir pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M. Beliau adalah pendiri dan pengasuh pesantren Al-Baqiyatussolihat Ma’mun Nawawi mulai mondok di pesantren Tugabus Bakri bin Seda Mama Sempur di Plered, Sempur, beliau melanjutkan ke pesantren Jawa timur yaitu Pesantren KH. Hasyim Asy’ari Kemudian KH. Ma’mun Nawawi nyantri di Pesantren Syekh Ihsan Jampes seorang Pengarang Kitab Siraj al-Thalibin di Ma’mun Nawawi melanjutkan studinya ke Mekkah selama 2 tahun. Selama di Mekkah, beliau berguru pada lebih dari 13 muallif pengarang kitab, diantaranya adalah al-Muhaddits as-Sayyid Alawi al-Maliki, Mama KH. Mukhtar Ath Tharid, dan syaikh Ali al belajar di Mekkah, beliau belajar lagi ke pesantren yang diasuh Syaikh KH. Manshur bin Abdul Hamid al-Batawi, pengarang kitab Sullam an-Nayirain, di Jembatan Lima, PesantrenKH. Ma’mun Nawawi mendirikan Pondok pesantren Al-Baqiyatussolihat pada tahun 1938. Pada masa jaya-jayanya pesantren Al-Baqiyatussolihat pernah menampung sampai 1000 santri dalam satu angkatan. Pesantren Al-Baqiyatussolihat terkenal sebagai Pesantren Ilmu Falak Hisab.Jasa PerjuanganPada masa perang kemerdekaan KH. R. Ma’mun Nawawi pernah mengadakan pelatihan militer santri Hizbullah di Cibarusah. Para santri itu kemudian dikirim ke Bekasi untuk menghadapi tentara sekutu secara frontal di bawah komandan yang juga teman seperjuangannya yang dikenal sebagai macan dari Bekasi, yaitu KH. Nur juga meninggalkan karya-karya tulis di antaranya At-Taisir Fi Ilmi Falak, Bahjatul Wudhuh,Manasik Haji, Khutbah JUm’at,Kasyful Humum, Majmu’atu da’wat, Risalah Zakat, syair qiyamat, Risalah Syurbuddukhon Ma’mun Nawawi Nawawi wafat pada malam Jum’at 26 Muharram 1395 H pukul WIB yang bertepatan dengan tanggal 7 Februari 1975 M di Cibogo pada usia 63 tahun 1912-1975.Makam KH. Ma’mun Nawawi BekasiMakam KH. Ma’mun Nawawi Bekasi berada di pemakaman keluarga pesantren Al-Baqiyatussolihat, Bekasi , Jawa Barat Jakarta – Syekh Imam Nawawi Al-Bantani lahir pada tahun 1230 H/1813 M di Tanara, Banten, beliau lahir dengan nama Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani. Syekh Imam Nawawi merupakan putra dari Syekh Umar Al-Bantani yang nasabnya tersambung hingg Maulana Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati. Syekh Nawawi adalah salah satu ulama Indonesia yang bertaraf internasional, keluasan ilmunya diakui oleh ulama dunia. Bahkan beliau ditunjuk sebagai imam besar Masjidil Haram menggantikan Syaikh Achmad Khotib Al-Syambasi. Nama beliau masyhur didengungkan sebagai “Bapak Kitab Kuning Indonesia”, nama beliau disebut-sebut di negara timur tengah seperti Suriah, Mesir, Turki, hingga Hindustan. Selain itu, hampir semua karya beliau menjadi rujukan di semua lembaga pendidikan Islam di dunia, khususnya di Indonesia. Syekh Nawawi Al-Bantani sangat rajin dalam menulis, beliau menulis kitab dari berbagai disiplin ilmu. Hal tersebut membuktikan betapa cerdas dan alimnya beliau. Berikut beberapa kitab beliau yang mu’tabar, di antaranya ialah Tafsir Marah Labid, Atsimar al-Yaniah fi Ar-Riyadah al-Badiah, Nurazh Sullam, al-Futuhat al-Madaniyah, dan al-Aqdhu Tsamin. Syekh Nawawi juga merupakan guru dari ulama-ulama besar di Indonesia, di antara beberapa muridnya beliau adalah Syaikhona Kholil Bangkalan, Syekh Muhammad Mahfudz At-Tarmasi, KH Sholeh Darat, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, dan masih banyak lagi. Lokasi Makam Syekh Imam Nawawi Al-Bantani wafat pada 25 Syawal 1314 H/1897 M di usia 84 tahun di Syeib A’li, sebuah kawasan di pinggiran Kota Makkah. Makam Syekh Nawawi terletak di Jannatul Mu’alla pemakaman Ma’la. Pemakaman Ma’la terletak sekitar 500 meter dari Masjidil Haram. Untuk berziarah ke makam Syekh Nawawi cukup dari Masjidil Haram ke arah Terminal Sheb Amir kemudian menyeberang sekitar 100 meter. Makam Syekh Nawawi berupa gundukan tanah dan terdapat sebongkah batu, tidak seperti makam-makam yang terdapat di Indonesia. Haul Syekh Nawawi Al-Bantani tetap dilakukan setiap tahun walau beliau wafat di Makkah, haul diselenggarakan di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara, Banten asuhan KH Ma’ruf Amin Dzuriyyah Syekh Nawawi. Para jamaah yang hadir tak hanya dari dalam negeri, bahkan jamaah dari negara tetangga juga turut hadir dalam haul Syekh Nawawi. Setahun setelah pemakaman Syekh Nawawi dilakukan, sebagaimana peraturan pemerintah Arab, maka makam tersebut dibongkar lalu tulang-tulangnya akan dipindahkan bersama tulang-tulang mayat lainnya. Selanjutnya akan dikuburkan kembali di tempat lain di luar kota. Peraturan tersebut berlaku tanpa pandang bulu, begitu juga yang menimpa makam Syekh Nawawi. Ketika petugas datang dan menggali makam Syekh Nawawi, terjadi hal yang sangat mengejutkan. Jasad Syekh Nawawi terlihat masih utuh, seperti tak terjadi tanda-tanda pembusukan pada jasadnya. Lazimnya tubuh manusia akan membutuhkan waktu 1-2 bulan untuk pembusukan. Setelah diketahui bahwa makam tersebut bukan makam orang sembarangan, maka pemerintah Arab Saudi melarang membongkar makam Syekh Nawawi. Akhirnya, makam beliau tetap berada di Ma’la, Makkah. Bagi jamaah Haji dari Indonesia, tak lengkap rasanya jika belum berziarah ke makam Syekh Imam Nawawi Al-Bantani, terlebih lagi di pekuburan Ma’la terdapat makam guru kita tercinta, KH Maimoen Zubair. [embedded content] Editor Daniel Simatupang

makam imam nawawi di bom