makalah iman kepada rasul allah lengkap
Semogadengan mengetahui beberapa dalil naqli iman kepada rasul allah beserta dalil aqlinya bisa menambah keimanan kita. Selain itu artikel ini semoga bisa membantu temen-temen yang sedang belajar maupun membuat makalah iman kepada rasul allah. Originally posted 2019-08-26 09:27:15. Riki Ramdhani.
BerimanKepada Allah Edit Pdfdocx Makalah Beriman Kepada Kitab Kitab Allah Makalah Iman Kepada Malaikat Iman Kepada Malaikat Dalil Al Qur An Dan Hadits
BABI PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam agama islam dikenal empat buah kitab yang wajib kita percaya serta kita imani. Jumlah k
ImanKepada Rasul menurut Bahasa Arab merupakan Percaya Secara istilah atau luasnya, iman kepada rasul berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Rasul itu benar-benar utusan Allah yang ditugaskan untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan akhirat. Ada juga sebutan Ulul Azmi.
Couldnt preview file. You may be offline or with limited connectivity.
Wo Treffen Sich Singles In Stuttgart. MAKALAH IMAN KEPADA NABI DAN RASUL ALLAH SWT DISUSUN OLEH Rina Yulianti 26 XI MIA 1 UPTD SMA NEGERI 1 WATES TAHUN PELAJARAN 2015/2016 2 Makalah Iman Kepada Nabi dan Rasul Allah SWT. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat, kemudahan, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Makalah Iman Kepada Nabi dan Rasul Allah SWT. tepat waktu. Dalam proses pengerjaan makalah ini, penulis tak lupa mendapatkan bimbingan, arahan dan pengetahuan, hingga penulis mampu menyelesaikan makalah ini sesuai yang diharapkan. Maka dari itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Penulis berharap, makalah ini dapat memperluas wawasan pembaca. Penulis menyadari bahwa banyak terdapat kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini untuk ke depannya. Wates, 13 Februari 2016 Penulis, 3 Makalah Iman Kepada Nabi dan Rasul Allah SWT. DAFTAR ISI Kata Pengantar .............................................................. 2 Daftar Isi ...................................................................... 3 BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang ....................................................... 4 b. Rumusan Masalah .................................................... 4 c. Tujuan ................................................................... 4 BAB II PEMBAHASAN a. Pengertian Nabi dan Rasul ........................................ 6 b. Dalil Iman Kepada Nabi dan Rasul ............................. 6 c. Nama – Nama Rasul Allah ........................................ 8 d. Sifat – Sifat Rasul Allah .......................................... 8 e. Tugas Para Rasul .................................................... 9 f. Mukjizat Para Rasul ............................................... 10 BAB III PENUTUP a. Kesimpulan . ......................................................... 11 b. Saran ................................................................... 11 Daftar Pustaka ............................................................... 12
Pengertian Iman Kepada Rasul, Dalil, Hikmah dan Fungsi Iman Kepada Rasul Allah Lengkap – Iman berasal dari bahasa Arab yang berarti percaya, Iman berarti meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengerjakan dengan perbuatan. Secara istilah, pengertian Iman Kepada Rasul Allah berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa Rasul itu benar-benar utusan Allah yang ditugaskan untuk membimbing umatnya ke jalan yang benar agar selamat di dunia dan akhirat. Iman Kepada Rasul Allah merupakan rukun iman yang ke-4. Perbedaan Nabi dan Rasul, Rasul adalah manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri dan mempunyai kewajiban untuk menyampaikan wahyu yang diberi Allah untuk umatnya. Sedangkan, Nabi adalah manusia pilihan yang diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri tapi tidak wajib menyampaikannya kepada umatnya. Sehingga seorang rasul pasti adalah nabi, tapi nabi belum tentu rasul. QS. Al-An’am Ayat 48 Artinya “Dan kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tidak ada kekawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”QS. Al An’am 648. QS. An-Nisaa Ayat 136 Artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad dan kepada Kitab al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab- Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh.” An-Nisa/4136 Nama-Nama 25 Nabi dan Sifatnya 1. Adam As 2. Idris As 3. Nuh As 4. Hud As 5. Sholeh As 6. Ibrahim As 7. Luth As 8. Ismail As 9. Ishaq As 10. Yaqub As 11. Yusuf As 12. Ayub As 13. Syu’aib As 14. Musa As 15. Harun As 16. Zulkifli As 17. Daud As 18. Sulaiman As 19. Ilyas As 20. Ilyasa As 21. Yunus As 22. Zakaria As 23. Yahya As 24. Isa As 25. Muhammad Saw Rasul Allah memiliki sifat yang sangat terpuji dan terhindar dari sifat tercela, sifat ini biasa disebut sifat wajib rasul. Sedangkan sifat tercela yang tidak mungkin dimiliki para Rasul disebut sifat mustahil rasul. Sifat wajib Rasul, diantaranya Sidiq artinya berkata benar Amanah artinya dapat dipercaya Tabligh artinya menyampaikan Fathonah artinya cerdik, pandai Sifat mustahil Rasul, diantaranya Kizib artinya berkata bohong Khianah artinya tidak dapat dipercaya Kitman artinya menyembunyikan Baladah artinya bodoh Sifat Jaiz Rasul Sifat jaiz rasul hanya ada satu, yaitu sifat basyariah sifat kemanusiaan, seperti makan, minum, tidur dan lain sebagainya. Rasul Ulul Azmi Rasul ulul azmi adalah utusan Allah yang memiliki kesabaran dan ketabahan yang luar biasa dalam menyampaikan risalah kepada umatnya. Ada 5 rasul ulul azmi yaitu Nabi Nuh As Nabi Ibrahim As Nabi Musa As Nabi Isa As Nabi Muhammad SAW Tugas Rasul Allah Tugas para rasul-rasul Allah SWT, yaitu Menyampaikan ajaran agama kepada manusia dan mengajak nya untuk beribadah kepada Allah. Menjelaskan semua permasalahan agama yang diturunkan oleh Allah. Membimbing manusia kepada kebaikan dan menjauh dari kejahatan. Membawa kabar gembira surga dan peringatan neraka Memperbaiki kondisi umat manusia Memberikan teladan yang baik perkataan dan perbuatan Menegakkan syari’at Allah dan mempraktekannya di tengah-tengah umat manusia Memperbaiki kesaksian atas umat mereka pada hari kiamat, bahwa rasul telah menyampaikan misi yang diterima dengan jelas. Hikmah Diutusnya Para Rasul Adapun hikmah diutusnya para rasul di dunia, diantaranya yaitu Mengeluarkan manusia dari kebiasaan menyembah Tuhan selain Allah. Sebagai suri tauladan yang baik untuk manusia Untuk menegakkan hujjah atas manusia dengan mengutus para rasul, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah Allah. Menjelaskan kepada manusia mengenai masalah ghaib yang tidak bisa dicapai oleh akal. seperti nama-nama dan sifat Allah, berita tentang hari kiamat, dan lainnya. Memperbaiki, membersihkan, mensucikan jiwa manusia, memperingatkan dari hal yang bisa merusaknya. Hikmah dan Fungsi Iman Kepada Rasul Allah Adapun fungsi beriman kepada rasul-rasul Allah, diantaranya yaitu Bertambah iman kepada Allah SWT dengan mengetahui bahwa rasul benar-benar manusia pilihan Allah Mau mengamalkan apa yang disampaikan para rasul Mempercayai tugas-tugas yang dibawanya untuk disampaikan kepada umatnya Lebih mencintai dan menghormati rasul atas perjuangannya Memperoleh suri teladan yang baik dalam menjalani hidup Mendapat rahmat Allah Mengerti tatacara bertauhid, beriman/ber’aqidah dan beribadah yang benar Tuntunan menuju jalan yang benar untuk keselamatan dunia akhirat Sebagai perantara mengenal Allah dengan segala sifat sempurna-Nya Dapat membedakan antara yang benar baik dan yang salah buruk Menjadikan teladan perilaku para rasul dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi jembatan menuju kebahagiaan yang haqiqi. Demikian penjelasan tentang Pengertian Iman Kepada Rasul, Dalil, Hikmah dan Fungsi Iman Kepada Rasul Allah Lengkap . Semoga bermanfaat dan sampai jumpa pada postingan selanjutnya.
KATA PENGANTARPuji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Makalah Iman Kepada Allah ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Makalah PAI yang berjudul Makalah Iman Kepada Allah ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Makalah Iman Kepada Allah ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga Makalah Iman Kepada Allah ini dapat bermanfaat bagi kita Juni 2023PenyusunDAFTAR ISIKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENDAHULUANA. Latar BelakangB. Rumusan MasalahC. TujuanBAB II PEMBAHASANA. Pengertian Iman kepada AllahB. Tanda-tanda Adanya Allah1. Dalil Fitrah2. Dalil Akli Akal3. Dalil NaqliC. Sifat-sifat Allah SWT dalam Al-Quran1. Wujud Ada2. Qidam Terdahulu3. Baqa Kekal4. Mukhalafatu lil Hawadisi Berbeda dengan Semua Makhluk5. Qiyamuhu Binafsihi Berdiri Sendiri6. Wahdaniyah Maha Esa7. Qudrat Kuasa8. Iradat Berkehendak9. Ilmu Mengetahui10. Hayat Hidup11. Sama Mendengar12. Basar Melihat13. Kalam BerfirmanD. Hikmah Iman kepada AllahE. Meningkatkan Iman kepada AllahF. Perilaku yang Mencerminkan Keyakinan akan Sifat-sifat AllahBAB III PENUTUPA. KesimpulanB. SaranDAFTAR PUSTAKADownload Contoh Makalah Iman Kepada IPENDAHULUANA. Latar BelakangAlam semesta beserta isinya, termasuk manusia, merupakan bukti adanya Sang Pencipta sekaligus sebagai pengaturnya. Setiap muslim pasti mengakui bahwa Allah-lah Maha Pencipta dan Pengatur segala sesuatu. Pengakuan tersebut merupakan salah satu wujud keimanan seseorang. Bagi seorang muslim, keimanan kepada Allah merupakan unsur iman yang paling penting. Wajib bagi seorang muslim mempercayai Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Bagaimana cara mempercayai adanya Allah dan kekuasaan Allah?Manusia tak mungkin mampu melihat wujud Allah secara langsung, karena dalam sebuah kisah di Al-Qur’an, ketika Allah menampakkan diri kepada gunung pun, gunung tersebut luluh dan hancur. Seorang Nabi, yaitu Musa pun tak mampu menyaksikan Allah secara langsung. Allah memberikan petunjuk kepada manusia untuk memahami Dzat Allah melalui ayat-ayat Al-Qur’an beserta tanda-tanda di alam dasarnya manusia memerlukan bekal untuk mengarungi kehidupan di dunia maupun akhirat. Iman merupakan bekal utama bagi seseorang untuk menentukan arah kehidupannya. Hidup tanpa dilandasi iman ibarat orang tersesat. Orang tersesat tidak mengerti arah mata angin dan tidak tahu ke mana harus melangkah. Betapa pentingnya masalah keimanan ini sehingga sebagai muslim kita semua harus betul-betul memahami hakikat iman, cara beriman, dan kepada siapa kita harus harfiah iman berarti percaya, sedangkan menurut istilah, iman berarti percaya dan meyakini dengan sepenuh hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikan dengan perbuatan. Tanda-tanda keimanan dalam diri seseorang dapat terlihat dari amal perbuatan yang dikerjakan karena kepribadian diri seseorang merupakan pancaran dari iman yang ada di dalam diri seseorang. Iman kepada Allah Swt. merupakan pokok dari seluruh iman yang tergabung dalam rukun iman. Dengan demikian, keimanan kepada AllahSwt. harus tertanam dengan benar kepada diri seseorang. Sebab jika iman kepada Allah Swt. tidak tertanam dengan benar, kekeliruan ini akan berlanjut terhadap keimanan kepada malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, serta qadla’ dan Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah tentang Iman kepada Allah ini adalah sebagai berikutApa pengertian iman kepada Allah SWT?Apa saja tanda-tanda adanya Allah SWT?Bagaimana sifat-sifat Allah SWT dalam Al-QuranApa hikmah iman kepada Allah SWT?Bagaimana cara meningkatkan iman kepada Allah SWT?Bagaimana perilaku yang mencerminkan keyakinan akan sifat-sifat Allah SWT?C. TujuanAdapun tujuan dalam penulisan makalah tentang Iman kepada Allah ini adalah sebagai berikutUntuk mengetahui pengertian iman kepada Allah mengetahui tanda-tanda adanya Allah mengetahui sifat-sifat Allah SWT dalam Al-QuranUntuk mengetahui hikmah iman kepada Allah mengetahui cara meningkatkan iman kepada Allah mengetahui perilaku yang mencerminkan keyakinan akan sifat-sifat Allah IIPEMBAHASANA. Pengertian Iman kepada AllahMenurut bahasa, iman berarti percaya atau membenarkan. Menurut ilmu tauhid, iman berarti kepercayaan yang diyakini kebenarannya dalam hati, diucapkan atau diikrarkan lewat lisan, dan dibuktikan lewat perbuatan. Jadi, iman kepada Allah adalah percaya dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah itu ada dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Iman kepada Allah meliputi tiga unsur penting, yaitu meyakini lewat hati, mengikrarkan lewat lisan, dan mewujudkan lewat perbuatan amal. Seseorang tidak dapat dikatakan beriman jika hanya melakukan satu atau dua dari tiga komponen tersebut. Ketiganya harus ada, tidak bisa dipisah-pisahkan satu sama lain. Seseorang yang mengaku beriman tetapi hatinya ragu-ragu akan keberadaan Allah, akan jatuh pada kemunafikan. Adapun yang meyakini adanya kekuatan, kekuasaan, atau sembahan selain Allah Swt. akan jatuh pada kepada Allah Swt. dapat dipupuk melalui pemahaman terhadap sifat-sifat Allah Swt. dan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keimanan. Selain itu, juga dapat melalui tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran dan keberadaan Allah Swt., baik melalui dalil agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Seseorang yang meyakini Allah Swt. sebagai Tuhannya, ia setiap saat menyadari bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya pasti diketahui oleh Allah Swt. Dengan demikian, orang tersebut selalu berusaha agar yang ia kerjakan mendapatkan keridaan di sisi-Nya. Hal ini karena keimanan kepada Allah Swt. harus meliputi tiga unsur, yaitu keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan, dan pembuktian dengan anggota ada seseorang yang hanya meyakini dalam hati terhadap keberadaan Allah Swt., tetapi tidak membuktikannya dengan amal perbuatan serta ikrar dengan lisan, berarti keimanannya belum sempurna. Ketiga unsur keimanan tersebut memang harus terpadu tanpa bisa dipisahkan. Iman kepada Allah Swt. juga merupakan rukun iman yang pertama dan utama. Umar bin Khattab menjelaskan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Iman ialah bahwa engkau beriman kepada Allah Swt., kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari kiamat, kepada qadar yang baik dan yang buruk.” Muslim. Berdasarkan hadis tersebut, sebelum kita mengimani kepada yang lain, harus memiliki keteguhan iman kepada Allah Swt. Allah Swt. adalah Tuhan yang menciptakan, mengadakan, dan menghancurkan ciptaan-Nya. Kita sebagai makhluk-Nya harus Tanda-tanda Adanya AllahMembuktikan adanya Allah, Sang Pencipta, tidak sama dengan membuktikan adanya berbagai benda di sekitar kita yang hakikatnya adalah makhluk. Makhluk dapat dilihat, diraba, didengar, dan sebagainya. Adapun Zat Allah sangat berbeda, Dia tidak bisa dideteksi menggunakan pancaindra manusia yang memang sangat terbatas. Adanya Allah Swt. merupakan sesuatu yang bersifat aksiomatis sesuatu yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa perlu pembuktian. Meskipun demikian, kita juga dapat mengemukakan dalil-dalil yang menyatakan adanya Allah Swt., untuk memberikan pengertian secara rasional. Tanda-tanda adanya Allah dapat dibuktikan melalui dalil fitrah, dalil akli, dan dalil Dalil FitrahManusia diciptakan dengan fitrah bertuhan, sehingga kadangkala disadari atau tidak, disertai belajar ataupun tidak, naluri berketuhanannya itu akan bangkit Al-A’raf 7172 dan Az-Zukhruf 43 87. Selain itu, adanya pernyataan Rasulullah saw. bahwa kedua orang tua yang menjadikan anak sebagai Nasrani, Yahudi, atau Majusi, tanpa menunjukkan kata menjadikan Islam terkandung maksud bahwa menjadi Islam adalah tuntutan fitrah. Jadi, secara fitrah tidak ada manusia yang menolak adanya Allah sebagai Tuhan yang hakiki, hanya kadang-kadang faktor luar bisa membelokkan dari Tuhan yang hakiki menjadi tuhan-tuhan lain yang Dalil Akli AkalAkal yang digunakan untuk merenungkan keadaan diri manusia dan alam semesta dapat membuktikan adanya Tuhan. Metode yang bisa ditempuh untuk membuktikan adanya Tuhan melalui akal adalah melalui beberapa teori, antara lain teori sebab, keteraturan, dan kemungkinan Achmad Baiquni, 2006.a. Teori SebabSegala sesuatu pasti ada sebab yang melatarbelakanginya. Adanya sesuatu pasti ada yang mengadakan, dan adanya perubahan pasti ada yang mengubahnya. Mustahil sesuatu ada dengan sendirinya. Mustahil pula sesuatu ada dari ketiadaan. Pemikiran tentang sebab ini akan berakhir dengan teori sebab yang utama causa prima, dia adalah Allah Teori KeteraturanAlam semesta dengan seluruh isinya, termasuk matahari, bumi, dan bulan bergerak dengan sangat teratur. Keteraturan ini mustahil berjalan dengan sendirinya, tanpa ada yang mengatur. Siapakah yang mampu mengatur alam semesta ini selain Allah Swt?c. Teori KemungkinanMungkinkah di layar monitor muncul bait-bait puisi yang indah, saat sebuah komputer ditinggalkan dalam keadaan menyala dan tiba-tiba datang seekor tikus yang bermain-main di atas tuts keyboard komputer tersebut? Pasti orang akan menyatakan tidak mungkin. Jika itu tidak mungkin, lantas bagaimanakah alam raya yang lebih rumit dan kompleks terjadi secara kebetulan? Jika alam ini tidak mungkin terjadi dengan kebetulan, maka tentunya alam ini ada yang menciptakannya, yaitu Dalil NaqliMeskipun secara fitrah dan akal manusia telah mampu menangkap adanya Tuhan, namun manusia tetap membutuhkan informasi dari Allah Swt. untuk mengenal zat-Nya. Sebab akal dan fitrah tidak bisa menjelaskan siapa Tuhan yang sebenarnya. Allah menjelaskan tentang jati diri-Nya di dalam firman berikut رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَArtinya “Sungguh, Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Dia ciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam“. Al-A’raf 7 54.Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Swt adalah pencipta semesta alam dan seisinya, dan Dia pulalah yang mengaturnya. Kalimat “Sesungguhnya Tuhan Kamu adalah Allah” merupakan bentuk penegasan. Adapun kata “Dia bersemayam di atas Arsy” menunjukkan keberadaan Allah. Tetapi perlu diingat, hakikatnya Allah itu bagaimana hanya Allah yang tahu, kita dilarang untuk Sifat-sifat Allah SWT dalam Al-Quran1. Wujud AdaSalah satu sifat Allah Swt. adalah wujud. Wujud berarti ada, lawannya adalah tidak ada atau adam. Keberadaan Allah Swt. dapat dibuktikan dengan keberadaan makhluk-makhluk-Nya. Jika Allah Swt. tidak ada, mustahil tercipta makhluk-makhluk-Nya. Dengan demikian, Allah Swt. ada dengan sendirinya dan lebih dahulu sebelum keberadaan makhluk-makhluk-Nya. Allah Swt. adalah zat gaib sehingga tidak bisa dilihat dengan mata. Meskipun tidak bisa dilihat dengan mata, keberadaan Allah Swt. tetap tampak. Kita bisa merasakan langit, bumi, diri kita, atau makhluk-makhluk lain yang tersebar di penjuru langit dan bumi. Semua itu pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin semua itu ada dengan sendirinya. Dialah Allah Swt. yang memiliki sifat wujud yang menciptakan seluruh Qidam TerdahuluAllah Swt. bersifat dahulu sehingga mustahil baginya bersifat baru. Qidam berarti dahulu, kebalikannya hudus yang artinya baru. Keberadaan Allah Swt. adalah dahulu, tidak baru saja muncul. Allah Swt. adalah yang pertama kali ada sebelum makhluk-Nya ada. Berbeda dengan makhluk, dahulunya Allah Swt. tidak berproses. Coba kita perhatikan proses pertumbuhan manusia. Dahulunya manusia adalah sosok janin yang berkembang menjadi bayi kemudian berkembang lagi menjadi anak-anak. Usia anak-anak meningkat menjadi sosok remaja yang tumbuh hingga usianya semakin tua. Setelah itu, proses kehidupan manusia justru mengalami penurunan. Bahkan, tidak lama setelah itu pasti menghadapi kematian. Dahulunya Allah Swt. menunjukkan Dia ada dan tidak akan musnah dan hilang sampai kapan pun. Keberadaan Allah Swt. yang menjadikan makhluk-Nya ada. Allah Swt. tidak tergantung pada waktu karena Dia yang menciptakan waktu. Allah Swt. telah ada sebelum terciptanya waktu itu Baqa KekalBaqa berarti kekal dan abadi. Kebalikan dari sifat baqa adalah fana atau rusak. Hanya Allah Swt. Yang Maha Abadi. Sebaliknya, makhluk-makhluk-Nya pasti akan menghadapi kematian dan kerusakan. Bahkan, kehidupan yang kita rasakan, pada saatnya nanti juga akan rusak. Sebagaimana dijanjikan oleh Allah Swt., pada hari kiamat kelak, semua makhluk-makhluk-Nya akan hancur lebur. Tidak ada yang abadi kecuali Allah Swt. semata karena Dia memiliki sifat baqa. Memahami bahwa Allah Swt. memiliki sifat baqa mendorong kita untuk semakin mantap dalam beribadah kepada-Nya. Hanya Allah Swt. yang selalu hidup dan abadi yang kita ibadahi dan minta Mukhalafatu lil Hawadisi Berbeda dengan Semua MakhlukSifat mukhalafatu lil hawadisi menunjukkan bahwa Allah Swt. berbeda dengan makhluk-Nya. Sifat Allah Swt. ini sekaligus menunjukkan sifat mustahil-Nya untuk serupa dengan makhluk atau mumasalatu lil hawadisi. Tidak ada satu pun makhluk yang serupa dengan Allah Swt. Untuk menunjukkan bahwa Allah Swt. berbeda dengan makhluk-Nya sangat mudah. Kita memperhatikan bahwa antara pencipta dengan yang diciptakan pasti berbeda. Dengan demikian, tidak tepat jika Allah Swt. dipersamakan dengan malaikat, apalagi dengan manusia atau hewan. Meskipun dalam ayat-ayat Al-Qur’an dijelaskan bahwa Allah Swt. Maha Mendengar dan Maha Melihat, kita tidak perlu memikirkan bentuk mata dan telinga Allah Swt. Untuk menambah pemahaman sifat Allah Swt. ini kita dapat membandingkan dengan sifat manusia. Meskipun manusia dapat membuat rumah, tidak berarti wujud dan bentuk manusia seperti rumah. Begitu halnya dengan Allah Swt., meskipun bisa menciptakan langit, bumi serta seisinya, tidak berarti bahwa Dia seperti makhluk-makhluk Qiyamuhu Binafsihi Berdiri SendiriAllah Swt. bersifat qiyamuhu binafsihi yang artinya Allah Swt. berdiri sendiri. Kebalikannya adalah sifat qiyamuhu bigairih yang berarti membutuhkan pihak lain. Ayat berikut ini menjelaskan sifat qiyamuhu binafsihi. Allah Swt. adalah pencipta segala makhluk-makhluk-Nya. Kemampuan Allah Swt. dalam mencipta tidak bergantung pada makhluk-Nya, tetapi bisa dilakukannya sendiri. Demikian halnya jika Allah Swt. bergantung kepada makhluk, menunjukkan bahwa Allah Swt. memiliki sifat lemah. Padahal, Allah Swt. Mahakuasa atas segala sesuatu. Kita meyakini Allah Swt. sebagai zat yang bersifat qiyamuhu binafsihi. Kita hanya memohon dan meminta pertolongan kepada Allah Swt. yang mampu mandiri dan berdiri Wahdaniyah Maha EsaAllah Swt. memiliki sifat Wahdaniyah yang artinya Allah Swt. Maha Esa. Keesaan Allah Swt. menunjukkan bahwa Dia tidak bersifat terhitung atau taaddud. Allah Swt. adalah tunggal sehingga tidak ada sekutu bagi-Nya. Keesaan Allah Swt. juga menunjukkan bahwa Dia tidak bertambah banyak dan memiliki keturunan. Memahami bahwa Allah Swt. memiliki anak adalah keliru. Esa zat-Nya juga bukan karena hasil penjumlahan atau perkalian, serta perhitungan-perhitungan lainnya. Allah Swt. bersifat tunggal menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mengungguli, mirip, terlebih serupa dengan Dia. Oleh karena itu, yang pantas kita ibadahi adalah Allah Swt. yang memiliki sifat Qudrat KuasaSifat qudrat yang Allah Swt. miliki berarti D ia Mahakuasa. Kekuasaan Allah Swt. tidak terbatas. Kebalikan dari sifat qudrat adalah ajzun yang artinya lemah. Kekuasaan Allah Swt. berbeda dengan kekuasaan yang dimiliki manusia. Jika kekuasaan manusia sangat tergantung pada orang lain, kekuasaan Allah Swt. tidak demikian. Allah Swt. berkuasa karena kehendak-Nya sendiri. Kekuasaan Allah Swt. juga tidak terbatas. Ia menguasai dalam kemampuan penciptaan makhluk-Nya, dalam pemeliharaan, sekaligus dalam mencabut kehidupan yang terjadi pada makhluk-makhluk-Nya. Mengimani sifat kekuasaan All ah Swt. juga menyadarkan kita bahwa yang patut kita ibadahi dan sembah sujud hanya Allah Swt. Kita dilarang terlalu tunduk kep ada manusia hingga tanpa Iradat BerkehendakAllah Swt. bersifat iradat yang berarti memiliki kehendak untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Sifat mustahilnya adalah karahah yang berarti terpaksa. Dalam menentukan segala sesuatu, Allah Swt. berkehendak atas diri-Nya sendiri. Tidak tergantung, apalagi dipaksa oleh makhluk-makhluk-Nya. Jika Allah Swt. berkehendak pada sesuatu cukup dengan berfirman, “Kun”, segera jadilah yang Dia kehendaki. Berbeda dengan kehendak manusia yang adakalanya tidak dapat menentukan keinginannya sendiri, tetapi dipengaruhi oleh orang lain. Mengetahui sifat iradat Allah Swt. menyadarkan kita untuk tidak bersikap sombong terhadap sesuatu. Kita harus sadar bahwa Yang Maha Berkehendak adalah Allah Swt. Dalam menjalani hidup, manusia hendaknya selalu berusaha sembari memperbanyak doa. Tentang hasil yang kita peroleh, Allah Swt. yang menetapkan dengan Ilmu MengetahuiSalah satu sifat Allah Swt. yang lain adalah berilmu, pandai, dan mengetahui. Sifat mustahil dari ilmu adalah jahlun. Kepandaian, ilmu, dan pengetahuan Allah Swt. tidak terbatas. Allah Swt. mengetahui atas segala sesuatu, baik yang terlihat ataupun yang gaib. Allah Swt. Maha Berilmu dengan kemampuan dari diri-Nya sendiri. Tidak berilmu karena belajar dari makhluk-Nya atau karena pengalaman. Jika Allah Swt. tidak memiliki ilmu tentu tidak dapat menciptakan alam raya ini dengan segala kesempurnaan. Allah Swt. juga yang menjaganya dengan kemampuan yang Dia Hayat HidupSifat yang pasti dimiliki Allah Swt. adalah hayat. Hayat berarti hidup, sifat mustahilnya adalah maut atau mati. Allah Swt. hidup dan tidak akan mati selamanya. Jika Allah Swt. bersifat maut pasti kehidupan yang ada di alam ini akan rusak. Demikian juga dengan keteraturan tata surya yang tepat di tempatnya, tanpa bertabrakan antara satu dengan yang lain. Allah Swt. hidup abadi, Dia yang menciptakan manusia, menjaganya, mematikan, serta membangkitkannya pada hari kiamat nanti. Zat yang pantas kita sembah adalah yang memiliki sifat hayat. Hanya Allah Swt. yang selalu hidup, sedangkan semua makhluk pasti menghadapi kematian. Dengan demikian, kita tidak perlu menyembah kepada sesuatu yang pada saatnya nanti akan rusak, hancur, dan mati. Hanya Allah Swt. pula yang dapat menjamin kehidupan Sama MendengarAllah Swt. memiliki sifat mendengar. Kemampuan mendengar-Nya tidak terbatas. Bahkan, suara apa pun yang muncul dari makhluk-Nya mampu didengarkan Allah Swt. Sifat mustahil dari sama yaitu summun yang berarti tuli. Kemampuan Allah Swt. dalam mendengarkan tentu sangat berbeda dengan kemampuan yang dimiliki manusia. Manusia hanya mampu mendengarkan suara dalam ukuran-ukuran tertentu. Oleh karena kelemahan yang dimiliki manusia, terkadang tidak dapat membedakan antara suara yang satu dengan suara yang Swt. juga mampu mendengarkan getaran niat dalam hati manusia, persangkaan, harapan, atau cita-cita. Jika kita memiliki niat kebaikan berarti telah didengarkan oleh Allah Swt. sehingga Dia juga memberi balasan pahala. Oleh karena itu, kita perlu menyucikan hati dan menjaga mulut agar mulut ini hanya untuk mengucapkan Basar MelihatSifat Allah Swt. yang juga harus kita imani adalah basar. artinya melihat, sedangkan kebalikannya adalah sifat umyun yang berarti buta. Allah Swt. Maha Melihat dengan kekuasaan mampu melihat semua makhluk. Entah makhluk yang besar, seperti matahari dan bumi ataukah makhluk sekecil atom, mampu dilihat Allah Swt. Bagi Allah Swt. tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi pengawasan-Nya. Sebagai contoh, Allah Swt. mampu melihat pergerakan atom meskipun terhalang oleh benda yang sangat tebal dan besar. Allah Swt. juga mampu melihat hamba yang bersembah sujud kepada-Nya, meskipun tidak tampak oleh mata manusia. Oleh karena kita menyadari pada sifat Allah Swt., hendaknya kita selalu menampilkan amal kebajikan dalam menjalani hidup. Tujuannya tidak untuk mendapat pengawasan, sanjungan, dan penghormatan dari manusia, tetapi agar mendapatkan keridaan Allah Kalam BerfirmanSifat Allah Swt. kalam artinya Allah Swt. wajib memiliki sifat berfirman atau berkata. Sifat mustahilnya adalah bukmun atau bisu. Sifat Allah Swt. berfirman ditunjukkan dengan diturunkannya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia. Dengan demikian, sangat jelas bahwa Al-Qur’an bukan buatan manusia, melainkan merupakan firman Allah Swt. Cara Allah Swt. berfirman tidak dapat kita ketahui karena berada di luar jangkauan akal manusia. Sebagai manusia, kita cukup untuk mengimani saja, tanpa perlu memikirkan cara Allah Swt. berfirman. Sifat kalam Allah Swt. sekaligus memberi peneladanan kepada kita agar memanfaatkan lidah kita untuk membicarakan sesuatu yang Hikmah Iman kepada AllahSiapa saja yang menyatakan dirinya telah beriman kepada sifat-sifat Allah swt. haruslah berusaha mengejawantahkannya atau mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, keimanan yang sempurna tidak sekadar menunjukkan keyakinan dalam hati dan mengikrarkan dengan lisan, namun harus membuktikan dengan amal perbuatan. Beriman kepada sifat-sifat Allah swt. seharusnya akan membentuk pribadi muslim yang lebih menumbuhkan keyakinan yang utuh tentang keberadaan dan keesaan Allah swt. Seseorang yang memahami sifat-sifat Allah swt. sembari memperhatikan ciptaan-Nya, segera sadar bahwa hanya Allah Yang Mahasempurna. Oleh karena itu, yang harus disembah dan tempat memohon pertolongan hanya Allah swt. semata. Misalnya, ketika mengetahui bahwa Allah swt. memiliki sifat iradat, kita akan sadar bahwa Yang Maha Menentukan segala sesuatu adalah Allah. Sudah sepantasnya jika dalam setiap saat kita selalu berdoa dan memohon kepada Allah membentuk pribadi yang berkualitas. Kita mafhum bahwa Allah swt. Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui. Pemahaman tersebut akan menimbulkan kesadaran bahwa manusia di hadapan Allah swt. hanyalah makhluk kecil yang teramat lemah. Oleh karena itu, tidak ada artinya jika kita bersikap sombong. Kita harus rendah hati seraya berusaha memperbaiki diri. Dengan demikian, kita pun termotivasi untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Contoh, pemahaman sifat qudrat Mahakuasa Allah mendidik kita bersikap optimis. Hal ini karena hanya dengan kekuasaan-Nya segala sesuatu dapat terjadi. Tidak selayaknya kita putus asa, pesimistis, dan minder dalam menghadapi sesuatu. Demikianlah yang seharusnya dimiliki oleh setiap pribadi selalu jujur dalam bertindak dan berkata. Seseorang yang beriman kepada Allah swt. akan bertindak dan berkata jujur. Hal ini karena ia merasa dan yakin bahwa Allah swt. melihat dan mengetahui segala tingkah laku kita. Meskipun tidak ada manusia yang mengetahui perbuatan yang kita lakukan, Allah swt. pasti melihat dan mengetahui. Keyakinan bahwa Allah swt. Maha Melihat dan Maha Mendengar akan mendorong kita untuk berbuat Meningkatkan Iman kepada AllahSetelah memahami sifat-sifat Allah SWT dan tanda-tanda adanya Allah melalui fenomena alam sekitar. Seorang muslim yang beriman kepada Allah adalah ia yang membenarkan keberadaan Allah, meyakini bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui perkara yang nyata dan gaib, Rabb atas segala sesuatu, tidak ada yang pantas disembah selain Allah, yang memiliki sifat sempurna dan tidak memiliki kekurangan Al-Jaza’iri, 2009 3.Untuk meningkatkan iman kepada Allah SWT, dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai dan merenungkan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an;Memerhatikan tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena alam semesta;Mempelajari ilmu muslim yang beriman kepada Allah memiliki sifat-sifat dan perilaku tertentu. Beberapa sifat dan perilaku orang yang beriman kepada Allah antara lainSelalu merasakan kehadiran Allah;Selalu berserah diri kepada Allah;Melaksanakan perintah Allah serta menjauhi tersebut tumbuh seiring dengan meningkatnya iman. Ketika imanmu telah bertambah maka tak perlu diperintahkan untuk berbuat demikian, dan akan melakukannya dengan senang Perilaku yang Mencerminkan Keyakinan akan Sifat-sifat AllahJika seseorang sudah bermakrifat memikirkan dalam-dalam tentang sifat-sifat Tuhannya dengan akal dan hati, maka hal itu akan menjadikan jiwa yang kokoh dan meninggalkan kesan mulia. Bukti keimanan tersebut akan tercermin melalui lisan, sikap, dan perilaku. Berikut perilaku-perilaku yang mencerminkan keyakinan akan sifat-sifat perintah dan menjauhi larangan Allah. Keyakinan akan sifat-sifat Allah menumbuhkan kesadaran untuk senantiasa mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang. Ia menyadari bahwa dialah yang butuh Allah, sedangkan Allah tidak butuh terhadap dirinya yang menggantungkan hidupnya selain kepada Allah. Muslim yang kuat memiliki jiwa yang merdeka. Mereka meyakini bahwa hanya Allah yang memberi kehidupan, keselamatan, kebahagiaan, kematian, dan kedudukan yang mulia. Selain Allah tidak ada yang kuasa melakukannya Al-A’raf 7188.Memiliki keberanian menyampaikan dan membela kebenaran. Keberanian timbul karena keyakinan bahwa Allah yang memberikan segala sesuatu, termasuk umur. Umur tidak akan berkurang karena berani dan tidak akan bertambah dengan bersikap pengecut dan khianat. Ali Imran 3 145, 154, dan An-Nisa’ 4 78.Senantiasa berusaha dan berdoa kepada Allah. Keimanan akan menimbulkan keyakinan bahwa Allah yang memiliki segalanya, dan Dialah yang Mahakuasa mengatur rezeki makhluk-Nya Hud 11 6 serta Al-Ankabut 29 60 dan 62.Memiliki ketenangan hati dan ketenteraman Jiwa. Jika hati tenang dan jiwa tenteram, maka manusia akan merasakan lezatnya kehidupan. Keyakinan bahwa Allah yang menggenggam hidupnya, membuat ia tidak putus asa, bersedih hati, dan gusar menghadapi hidup QS. Al-Baqarah 2 257, Ar-Ra’d 13 28, dan Al-Fat} 48 4.Berdasarkan beberapa contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa beriman kepada Allah tidak cukup dengan mengaku. Namun, perlu diusahakan sedemikian rupa agar menjadi cerminan perilaku sehari-hari. Bahkan Allah tidak akan menerima keimanan seseorang sebelum diuji dengan kesusahan, kebahagiaan, kesedihan, kesenangan, harta, dan jiwa Al-Baqarah 2 155 dan Al-Ankabut 29 2-3.BAB IIIPENUTUPA. KesimpulanKata iman berasal dari bahasa Arab yang artinya percaya. Menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan per-buatan. Dengan demikian, iman kepada Allah dapat diartikan dengan membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya. Selanjutnya, pengakuan ini diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara dapat dikatakan sebagai mukmin orang yang beriman sempurna jika memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Jika seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Hal ini karena ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat yang meyakini Allah Swt. sebagai Tuhannya, ia setiap saat menyadari bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya pasti diketahui oleh Allah Swt. Dengan demikian, orang tersebut selalu berusaha agar yang ia kerjakan mendapatkan keridaan di sisi-Nya. Hal ini karena keimanan kepada Allah Swt. harus meliputi tiga unsur, yaitu keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan, dan pembuktian dengan anggota ada seseorang yang hanya meyakini dalam hati terhadap keberadaan Allah Swt., tetapi tidak membuktikannya dengan amal perbuatan serta ikrar dengan lisan, berarti keimanannya belum sempurna. Ketiga unsur keimanan tersebut memang harus terpadu tanpa bisa SaranDengan memahami sifat-sifat Allah kita akan lebih mengenali Allah dan menambah iman kita. Selain itu, kita juga dapat merasakan adanya Allah melalui fenomena PUSTAKAAl-Jaza’iri, Abu Baker Jabir, Syeikh. 2009. Minhajul Muslim Pedoman Hidup Ideal Seorang Muslim. Solo Insan Achmad. 2006. Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Yogyakarta PT Dana Bakti Siti. 2011. Pendidikan Agama Islam untuk SMP Kelas VII. Jakarta Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Sayyid. 2006. Aqidah Islam Ilmu Tauhid. Bandung Contoh Makalah Iman Kepada
KATA PENGANTARPuji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Makalah Iman Kepada Rasul Allah ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Makalah PAI yang berjudul Makalah Iman Kepada Rasul Allah ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Makalah Iman Kepada Rasul Allah ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga Makalah Iman Kepada Rasul Allah ini dapat bermanfaat bagi kita Mei 2023PenyusunDAFTAR ISIKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENDAHULUANA. Latar BelakangB. Rumusan MasalahBAB II PEMBAHASANA. Pengertian Nabi dan Rasul1. Pengertian Nabi2. Pengertian Rasul3. Perbedaan Nabi dan RasulB. Pengertian Iman kepada Rasul AllahC. Dalil Iman kepada Rasul AllahD. Sifat-sifat Rasul AllahE. Fungsi Iman kepada Rasul AllahF. Fungsi Rasul AllahG. Tugas Rasul AllahBAB III PENUTUPA. KesimpulanB. SaranDAFTAR PUSTAKADownload Contoh Makalah Iman Kepada Rasul IPENDAHULUANA. Latar BelakangIman kepada rasul-rasul Allah merupakan suatu kewajiban, karena iman kepada rasul-rasul Allah merupakan rukun iman, yaitu yang keempat. Iman kepada rasul artinya mempercayai dengan sepenuh hati atas kedatangan rasul, mulai dari rasul yang pertama yaitu Nabi Adam AS. hingga rasul terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW. Ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul sejak Nabi Adam AS. hingga Nabi Muhammad SAW. Merupakan suatu rangkaian yang memiliki satu tujuan yaitu mengesankan Allah SWT. Berupa syariat atau hukum tertentu yang kemudian disampaikan atau diajarkan kepada karena itu, kita sebagai seorang muslim, wajib beriman atau mempercayai kepada para rasul utusan Allah sehingga dengan hal itu kita akan mengamalkan semua ajaran yang dibawa oleh rasul utusan Allah tersebut. Dengan berpegang hidup pada Allah dan sunah rasul maka kita akan hidup bahagia di dunia dan juga akhirat. Namun, di dalam kehidupan sehari-hari terkadang kita hanya mengetahui tentang pengertiannya saja itu pun hanya terbatas, tanpa mengetahui akan pemahamannya lebih dalam dan penerapannya di dalam kehidupan yang kita jalani atau di dalam kehidupan Rumusan MasalahApa pengertian nabi dan rasul?Apa pengertian iman kepada rasul Allah?Apa dalil iman kepada rasul Allah?Bagaimana sifat-sifat rasul Allah?Apa fungsi iman kepada rasul Allah?Apa fungsi rasul Allah?Apa tugas rasul Allah?BAB II PEMBAHASANA. Pengertian Nabi dan Rasul1. Pengertian NabiNabi ialah seorang hamba Allah yang diberi kepercayaan dan diberikan wahyu oleh Allah SWT namun tidak diperintahkan untuk menyampaikan wahyu-Nya kepada kaumnya. Akan tetapi, wahyu itu diberikan untuk diamalkan oleh dirinya sendiri dan tidak ada keharusan untuk disampaikan kepada umatnya atau Pengertian RasulRasul ialah seorang yang telah diberikan kepercayaan dan diberi wahyu oleh Allah SWT untuk diamalkannya yang kemudian wajib disampaikan kepada Perbedaan Nabi dan RasulNabi memperoleh wahyu hanya untuk dirinya sendiri, sedangkan rasul tidak hanya untuk dirinya sendiri melainkan diperintahkan Allah untuk disampaikan kepada nabi belum tentu rasul, tapi rasul pasti seorang nabi sangat banyak bahkan ratusan ribu, tetapi jumlah rasul sangat sedikit. Namun, yang wajib diketahui dan diimani hanya 25 yang pertama kali diutus ke muka bumi ialah Nabi Adam AS., sedangkan rasul pertama ialah Nuh AS. Nabi dan rasul penutup sekaligus menjadi nabi ialah Rasulullah Muhamad kerasulan lebih tinggi dibandingkan jenjang kenabian. Rasul diutus setelah menjadi rasul dan rasul lebih utama daripada Pengertian Iman kepada Rasul AllahIman kepada Rasul Allah termasuk rukun iman yang keempat dari enam rukun yang wajib diimani oleh setiap umat Islam. Yang dimaksud iman kepada para rasul ialah meyakini dengan sepenuh hati bahwa para rasul adalah orang-orang yang telah dipilih oleh Allah SWT. untuk menerima wahyu dari-Nya untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia agar dijadikan pedoman hidup demi memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Menurut Imam Baidhawi, rasul adalah orang yang diutus Allah SWT. dengan syariat yang baru untuk menyeru manusia nabi adalah orang yang diutus Allah SWT. untuk menetapkan menjalankan syariat rasul-rasul sebelumnya. Sebagai contoh bahwa Nabi Musa adalah nabi sekaligus rasul. Tetapi Nabi Harun hanyalah nabi, sebab ia tidak diberikan syariat yang baru. Ia hanya melanjutkan atau membantu menyebarkan syariat yang dibawa Nabi Musa kepada Rasul Allah merupakan rukun iman yang keempat. Karena merupakan rukun iman yang keempat, bagi setiap muslim wajib untuk mengetahui dan mengimani 25 nabi dan rasul tersebut. Nabi adalah manusia terpilih untuk menerima wahyu dari Allah. Perbedaan nabi dan rasul adalah nabi menerima wahyu untuk dirinya sendiri, sedangkan rasul menerima wahyu dan memiliki tugas untuk menyampaikannya pada seluruh umat di Dalil Iman kepada Rasul AllahMengenai identitas rasul dapat dibaca dalam Al-Anbiya ayat 7 dan Al-Mukmin ayat 78 yang artinya“Kami tiada mengutus rasul-rasul sebelum kamu Muhammad melainkan beberapa orang laki-laki yang kami beri wahyu kepada mereka, maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu jika kamu tiada mengetahui.” Al-Anbiya 7“Dan sesungguhnya telah kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang Rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah dari Allah, diputuskan semua perkara dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.” Al-Mukmin 78 Dalam ayat di atas dijelaskan, bahwa rasul-rasul yang pernah diutus oleh Allah SWT. adalah mereka dari golongan laki-laki, tidak pernah ada rasul berjenis kelamin perempuan, dan jumlah rasul yang diutus sebelum Nabi Muhammad saw. sebenarnya sangat banyak. Di antara para rasul itu ada yang diceritakan kisahnya di dalam Al-Quran dan ada yang Sifat-sifat Rasul AllahSifat WajibSiddiq artinya artinya artinya artinya pintar cerdik.Sifat MustahilKadzib artinya artinya tidak dipercaya dengki.Kistman artinya artinya bodoh.Sebagai manusia, rasul juga memiliki sifat-sifat manusia pada umumnya. Namun sifat-sifat tersebut tidak mengurangi martabatnya mereka sebagai utusan Allah, juga tidak mempunyai cela yang merendahkan dirinya, serta tidak mengurangi kedudukan mereka sebagai rasul. Mereka makan, minum, berdagang, berkeluarga, mengalami sakit, susah, gembira, dan lain Fungsi Iman kepada Rasul AllahIman kepada Rasul Allah SWT mengandung empat unsur yang merupakan tanda-tanda penghayatan terhadap fungsi iman kepada rasul-rasul Allah SWT, yaituMengimani bahwa risalah mereka benar-benar dari Allah SWT. Barang siapa yang mengingkari mereka walaupun hanya salah seorang rasul, maka dianggap kafir. Seperti firman Allah “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.”QS. Asy-Syura 105.Mengimani Rasul yang telah kita kenal maupun yang tidak kenal namanya. Seperti firman Allah. “Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada pula yang tidak Kami ceritakan kepadamu.”QS. Al-Mu’min 78.Membenarkan berita-berita yang bersumber dari wahyu Allah syariat-syariat mereka yang diutus Allah SWT, kepada kita. Seperti firman Allah “Maka demi Tuhan, mereka pada hakikatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” QS. An-Nisa 65.F. Fungsi Rasul AllahFungsi rasul pada intinya adalah menyampaikan amanat dari Allah untuk menegakkan kebenaran dan menjauhkan manusia dari kesesatan. Fungsi rasul menurut Alquran antara lainMenceritakan ayat-ayat agama dengan terang atau menggunakan bahasa kebenaran, berita gembira, dan peringatan yang berita gembira, memberi peringatan, dan sebagai keterangan-keterangan yang untuk menyembah Allah dan manusia beriman agar tidak mengkultuskan para rasul dan agar manusia bersikap selalu mempelajari dan ayat-ayat-Nya sebelum Allah memberikan azab bagi manusia yang melakukan keputusan di antara manusia dengan adil dan tidak pada tiap-tiap umat agar menyembah Allah dan menjauhi tagut dan Tugas Rasul AllahMenyatukan itikad dan keyakinan umatnya bahwa Tuhan adalah Zat Yang Maha batas bagi umatnya mana hal yang dilarang dan mana yang harus dikerjakan menurut perintah Allah pedoman kepada umatnya agar mereka menghiasi diri dengan sifat-sifat yang utama akhlak terpuji.Menjelaskan kepada umatnya apa saja yang dapat membawa mereka kepada keredaan Allah dan apa saja yang dapat membawa mereka kepada kepada umatnya tentang berita-berita gaib sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang digariskan Allah III PENUTUPA. KesimpulanBeriman kepada rasul Allah merupakan hal yang wajib dan patut diketahui oleh setiap umat muslim di seluruh dunia. Pengertian beriman kepada rasul Allah berarti adalah kita harus mengimani atau mempercayai adanya rasul-rasul Allah. Pengertian rasul adalah rasul adalah lelaki pilihan dan yang diutus oleh Allah dengan risalah kepada manusia. Rasul merupakan yang terbaik di antara manusia lainnya sehingga apa yang dibawa, dikatakan dan dilakukan adalah sesuatu yang terpilih dan mulia dibandingkan dengan manusia beriman kepada rasul-rasul Allah merupakan hal yang sangat berharga dan patut dipelajari. Karena, selain memberikan hikmah-hikmah yang sangat bermanfaat juga memberikan pembelajaran dan teladan bagi kehidupan kita baik di dunia maupun di akhirat. Kita sebagai manusia harus mempelajari lebih dalam, memahami lebih luas, dan menerapkannya di dalam kehidupan kita tentang beriman kepada rasul-rasul Allah agar kita dapat menjadi yang lebih baik di setiap harinya, dan mendapat kehidupan yang bahagia di dunia maupun di SaranKita sebagai umat muslim harus mampu menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari, dengan menunjukkan contoh-contoh perilaku beriman kepada rasul-rasul PUSTAKA Contoh Makalah Iman Kepada Rasul
100% found this document useful 1 vote353 views27 pagesOriginal TitleMAKALAH IMAN KEPADA ALLAH DAN RASULCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 1 vote353 views27 pagesMakalah Iman Kepada Allah Dan RasulOriginal TitleMAKALAH IMAN KEPADA ALLAH DAN RASULJump to Page You are on page 1of 27 You're Reading a Free Preview Pages 7 to 15 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 20 to 25 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
makalah iman kepada rasul allah lengkap